Jakarta – arintanews
Sebuah lukisan menyimpan banyak kisah, mulai dari sejarah pembuatan, hingga interpretasi yang muncul dari penikmat lukisan. Lukisan sebagai komoditi seni bukan hanya sebagai media pengungkapan perasaan dan ekspresi pribadi dari seniman. Namun juga menjadi simbol status sosial seseorang ketika lukisan mengisi salah satu ruang.
Lukisan sebagai kebudayaan materi pun memiliki keterbatasan, terutama yang terkait dengan penurunan kualitas fisiknya. Hal itu bisa disebabkan faktor internal dan eksternal. Karena itu diperlukan penanganan berupa perawatan atau pemeliharaan.
“Dalam merawat lukisan, diperlukan kejujuran. Dalam arti kejujuran untuk mendata asal-usul, kondisi, perawatan yang telah dilakukan, pewacanaan, interpretasi, dan berbagai hal yang membangun identitas sekaligus kisah lukisan tersebut,” ujar Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, Selasa (6/100) Jakarta.
“Kejujuran menjadi jalan untuk memperpanjang usia lukisan sekaligus menjaga kondisinya tetap terawat. Inilah tantangan yang perlu diupayakan secara terus-menerus dalam memelihara koleksi lukisan,” lanjutnya acara Bicara Rupa dengan tajuk Tantangan Baru Memelihara Koleksi Lukisan.
Pustanto berharap acara tersebut dapat menjadi media edukasi baik bagi perorangan yang baru memiliki lukisan, atau perorangan yang telah menjadi kolektor, maupun lembaga yang memiliki koleksi lukisan seperti galeri atau museum. Dan menjadi media buat berbagi pengetahuan, informasi, serta pengalaman terkait pentingnya perawatan lukisan. Terutama yang memiliki koleksi lukisan, diharapkan dapat semakin mencintai karya seni khususnya lukisan, sekaligus turut menjaga kelestarian karya seni rupa.
