Pati | arintanews
Menjelang memasuki musim kemarau yang akan terjadi dua bulan kedepan, petani di Desa Kepohkencono, Pati Jawa Tengah mengeluhkan tidak adanya sumber pengairan untuk sawah yang sebagaian masyarakat yang mengantungkan hidupnya sebagai petani. Eko Haryanto, salah satu petani di Desa Kepohkencono, Pati, Jawa Tengah mengatakan, selama ini dirinya untuk panen bergantung pada curah hujan yang turun. Sehingga jika sudah tidak ada hujan, besar kemungkinan dirinya mengalami kerugian.
“Untuk panen pertama sudah selesai, dan hasil penjualannya untuk biaya produksi. Biasanya kami mendapat untung saat panen kedua,” ujar Eko saat diwawancarai arintanews.com, Sabtu (20/02/2021)
Lebih lanjut Eko mengatakan jika masa panen kedua telat, hal tersebut berdampak pada pendapatannya. Sebab jika panen telat, harga gabah yang biasanya Rp450 per kilo bisa turun menjadi Rp380 perkilo.
Eko berharap pemerintah Kabupaten Pati bisa memperhatikan hal ini dan segera membuat waduk, tujuannya agar masa panen bisa terjadwal dan para petani tidak mengalami kerugian.
“Kami berharap pemerintah bisa memberikan perhatian dengan membuat waduk, sehingga kami para petani tidak dihantui kekhawatiran akan kerugian,” ujar Eko.
Sementara itu Kepala Desa Kepohkencono, Bahrun membenarkan masalah utama di desanya adalah air. Bahrun mengatakan di desa Kepohkencono ada 700 hektar sawah tadah hujan, dimana sawah tersebut bergantung pada curah hujan yang turun. Sehingga jika cuaca tidak mendukung, maka kerugian akan dialami para petani yang berada di wilayah tersebut.
“Untuk masa tanam pertama kita aman karena curah hujan cukup tinggi, namun untuk masa tanam kedua kita gambling, bisa untung, bisa juga rugi, namun lebih besar kemungkinan rugi,” ujar Bahrun.
Lebih lanjut Bahrun mengatakan, air menjadi masalah di desanya. Jika musim kemarau tiba, jangankan untuk mengairi sawah, untuk kebutuhan primer warga saja tidak cukup. Akibatnya jika musim kemarau, lahan sawah beralih fungsinya.
“Kami memiliki enam embung ( penyimpanan air), namun itu untuk kebutuhan warga, karena saat musim kemarau, warga kekurangan air.
Bahrun mengatakan, warganya memilih merantau saat musim kemarau hanya 60 % saja dari 4.949 kepala keluarga (KK). Pasalnya tidak ada yang bisa dikerjakan, meski tenaga kerja melimpah. Untuk itu dirinya berharap agar pemerintah Pati Jawa Tengah dapat memberikan solusi atas masalah yang sudah dipetakan ini yang terjadi setiap tahunya.
“Kami berharap agar pemerintah bisa membuat waduk, agar petani maupun warga bisa tetap bekerja meski musim kemarau tiba,” harap Bahrun. (wong)
