Cimahi | Arintanews – Keberadaan nyamuk aedes aegypti di lingkungan sekitar tentunya dapat mengancam kesehatan. Dengan begitu, perlu dilakukan pencegahan atau deteksi jentik dari awal.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi, Dwihadi Isnalini, mengatakan, telur nyamuk aedes aegypti dapat bertahan di wadah yang kering selama sekitar enam bulan, dan ketika terkena air, telur tersebut menetas menjadi jentik yang kemudian berkembang menjadi nyamuk dewasa.
“Nyamuk ini memiliki jarak terbang 50 meter, radius terbangnya itu di 200 meter. Jadi tidak bisa hanya ada kejadian satu RW ada kasus DBD di voging, tapi di RW sebelahnya tidak melakukan PSN maka nyamuk itu bisa terbang kemana-mana, dan itu sudah terbukti,” ungkap Dwihadi.
Menurutnya, apabila gerakan pemberantasan sarang nyamuk( PSN) berjalan efektif di Cimahi maka, risiko peningkatan kasus DBD di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung dapat ditekan.
“Intinya kita harua tetap waspada. Karena nyamuk dapat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya,” katanya.
Dwihadi menjelaskan, nyamuk akan aktif menggigit antara pukul 9 hingga 10 pagi serta antara pukul 4 hingga 5 sore. Pola gigitan ini cenderung menyerang anak-anak, terutama balita, yang sering kali tidak merasakan gigitan nyamuk atau acuh.
“Di jam segitu biasanya mereka dalam kondisi sedang tidur. Makanya orang tua zaman dulu biasanya tempat tidurnya dikasih kelambu untuk menghindari nyamuk,” ujarnya.
Sejauh ini pada tahun 2024, terdapat satu kasus kematian akibat DBD yang telah tercatat di Kota Cimahi. Tindakan perawatan bagi penderita DBD telah dilakukan di berbagai rumah sakit di wilayah tersebut.
Maka dari itu, Dwihadi mengimbau kepada masyarakat untuk menerapkan prinsip 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) adalah langkah penting dalam mengendalikan penyebaran nyamuk.
“Selain itu, penggunaan obat anti-nyamuk dan penanaman tanaman seperti serai atau lavender dapat menjadi strategi tambahan yang efektif,” pungkasnya. (Gatot)









